YNSU - ARTIKEL/BERITA/GALERI FOTO
-
Melalui kegiatan ini, diharapkan para santri PONSU dapat menyambut bulan Ramadhan dengan persiapan yang lebih matang, baik secara spiritual maupun mental. Dengan semangat kebersamaan dan kegembiraan, Ramadhan diharapkan menjadi momentum bagi para santri untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperdalam nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.
-
Melalui kegiatan donor darah rutin ini, warga Perumahan Taman Suko Asri menunjukkan bahwa kepedulian sosial dapat diwujudkan melalui langkah sederhana namun berdampak besar bagi kehidupan orang lain. Setetes darah yang disumbangkan bukan hanya membantu menyelamatkan nyawa, tetapi juga mempererat solidaritas kemanusiaan di tengah masyarakat.
-
Pondok Nur Sedekah Umat (PONSU) kembali menggelar program kegiatan rutin bulanan bagi para santri dengan mengusung tema “Aku Anak Hebat, Gigiku Sehat”. Kegiatan yang berfokus pada edukasi dan praktik menjaga kesehatan gigi ini dilaksanakan pada Ahad, 18 Januari 2026, bertempat di Gedung PONSU. Program tersebut diikuti oleh santri PONSU, baik mukim maupun non-mukim.
-
Sebagai wujud kepedulian terhadap masyarakat kurang mampu, Yayasan Nur Sedekah Umat (YNSU) kembali menyalurkan bantuan sosial berupa paket sembako. Kegiatan penyaluran bantuan tersebut dilaksanakan pada Sabtu, 17 Januari 2026, dengan menyasar warga Perumahan Taman Suko Asri (TSA) Tahap 1 dan 2, serta masyarakat di wilayah sekitarnya.
-
Mengisi masa liburan sekolah dengan kegiatan positif, Yayasan Nur Sedekah Umat (YNSU) menggelar program pengisian liburan produktif bagi santri-santri Pondok Nur Sedekah Umat (PONSU), Ahad (21/12/2025). Kegiatan yang berlangsung di Gedung PONSU, Perumahan Taman Suko Asri (TSA) II, ini diikuti oleh santri-santri PONSU, baik yang bermukim maupun non-mukim.
Siapa pun mungkin tidak tahu kapan tepatnya Lailatul Qadar datang. Namun satu hal yang pasti: mereka yang menghidupkan malam dengan ibadah, memperbanyak sedekah, dan meluangkan waktu untuk i’tikaf telah menyiapkan diri sebaik mungkin untuk menyambut malam yang penuh kemuliaan itu.
Mungkin tak ada yang melihatnya. Tak ada foto, tak ada cerita, tak ada pujian. Tetapi justru dalam kesunyian itulah, sebuah amal kecil bisa menjelma menjadi cahaya besar di hadapan Allah. Dan Ramadhan — dengan malam-malamnya yang penuh berkah—adalah waktu terbaik untuk memulainya.
Bayangkan sebuah masyarakat yang tidak menunggu Ramadhan untuk peduli. Di mana berbagi menjadi karakter, bukan program musiman. Di situlah cita-cita Islam tentang keadilan sosial menemukan bentuknya. Dan semua itu bisa dimulai dari satu keputusan sederhana di bulan suci ini: menjadikan Ramadhan bukan hanya momen tahunan, tetapi titik awal gaya hidup dermawan sepanjang zaman.
Barangkali justru dalam kondisi serba terbatas itulah nilai sedekah menjadi paling berharga. Karena di sana ada perjuangan, ada keikhlasan, dan ada kepercayaan penuh kepada Allah. Dan dari situlah tumbuh harapan: bahwa tangan yang memberi, meski kecil, akan selalu berada dalam penjagaan-Nya.
Ketika bulan suci berlalu, semangat tersebut semestinya tidak ikut surut. Jika Ramadhan berhasil melahirkan budaya berbagi yang terorganisir, maka kepedulian tidak lagi menjadi agenda tahunan, melainkan karakter umat. Dan di situlah harapan itu tumbuh: masyarakat yang kuat bukan hanya karena banyaknya harta, tetapi karena kokohnya solidaritas.
Pada akhirnya, keutamaan memberi ifthar adalah cermin dari rahmat Allah yang luas. Ramadhan menghadirkan kesempatan emas untuk meraih pahala berlipat dengan cara yang sederhana dan membahagiakan. Di antara dentang azan magrib dan doa berbuka yang lirih, terselip kebahagiaan yang tak ternilai — bahwa dengan berbagi makanan, kita ikut merasakan manisnya iman.
Bulan suci ini hanya sekejap. Tetapi jika keseimbangan itu berhasil kita bangun, maka selepas Ramadhan pun kita tetap menjadi pribadi yang tekun bersujud dan gemar berbagi. Di situlah ibadah menemukan makna yang paling utuh: mendekat kepada Allah, sekaligus mendekatkan diri kepada manusia.
Ketika sedekah dihidupkan sebagai kebiasaan, bukan sekadar program musiman, maka taqwa bukan lagi konsep abstrak. Ia menjelma menjadi karakter: pribadi yang dermawan, peduli, dan siap menjadi rahmat bagi sekitarnya. Ramadhan pun berlalu, tetapi semangat berbagi semestinya tinggal. Sebab di situlah jalan taqwa benar-benar dimulai.
ersimpangan itu nyata. Namun Islam mengajarkan bahwa setiap kesulitan selalu mengandung jalan keluar. Dengan pendampingan syariah, koperasi masjid, dan ekosistem halal yang kokoh, UMKM Muslim tak sekadar bertahan, tetapi berpeluang bangkit — menjaga nafkah tetap halal, usaha tetap hidup, dan harapan tetap menyala.
Di tengah tekanan ekonomi, zakat, infak, dan pajak seharusnya tidak menjadi beban berlapis, melainkan sistem yang saling menguatkan. Ketika keadilan menjadi tujuan bersama, ketaatan kepada agama dan negara tak lagi terasa berseberangan, melainkan berjalan seiring — demi kemaslahatan umat dan bangsa.